Invalid Date
Dilihat 56 kali
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Sejumlah para petani swadaya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, semakin gencar melakukan upaya pelestarian lingkungan dengan menanam berbagai jenis pohon di sekitar perkebunan mereka.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem serta untuk menjaga keseimbangan alam di tengah aktivitas pertanian.
Dengan inisiatif penghijauan ini, para petani berharap dapat mencegah degradasi lahan, meningkatkan kualitas tanah, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
Melalui Perkumpulan Petani Mitra Harapan (PPMH), Sandy Priyana sebagai Ketua PPMH menjelaskan bahwa kelompok swadaya petani sawit yang ada di lingkungan Air Upas dan Manis Mata gencar mendorong perubahan iklim yang lebih lestari dengan adanya hutan.
Sandy Priyana juga menjelaskan bahwa kelompok petani yang tergabung di PPMH tidak hanya menghasilkan kelapa sawit secara berkelanjutan tetapi juga menghibahkan tanahnya dan melakukan penghijauan yang bertujuan untuk pelestarian kawasan hutan guna mengurangi dampak perubahan iklim.
Melalui penjelasannya itu, Sandy Priyana menerangkan bahwa kelompok ini menaungi 698 petani dengan luas lahan mencapai 3.302 hektare.
“Setiap keluarga memiliki kebun dengan luas antara setengah hingga lima hektare, yang dikelola secara swadaya. Dalam sebulan, anggota PPMH mampu menjual hingga 6.000 ton tandan buah segar (TBS)” ujarnya.
Dilanjutkan oleh Ketua Adat Kecamatan Asam Besar, yakni Demung Mamang, bahwa keberadaan hutan ini merupakan bukti komitmen petani sawit swadaya dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Namun, keberhasilan ini tidak membuat mereka mengabaikan aspek lingkungan. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, PPMH berinisiatif menciptakan kawasan hutan larangan, salah satunya terletak di Desa Asam Besar, Kecamatan Manis Mata, dengan luas mencapai 80 hektare.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Ketua Adat Kecamatan Asam Besar, yakni Demung Mamang, bahwa keberadaan hutan ini merupakan bukti komitmen petani sawit swadaya dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Sekitar 70 persen wilayah kami sudah menjadi perkebunan sawit, sisanya adalah pemukiman dan hutan. Hutan larangan ini sangat penting karena masih menjadi rumah bagi berbagai satwa liar seperti beruang madu, kijang, rusa, dan landak. Selain itu, di sini juga tumbuh pohon-pohon bernilai tinggi seperti gaharu dan karet," ujar Mamang.
Selain melindungi keanekaragaman hayati, hutan ini juga menjadi sumber utama kehidupan masyarakat sekitar. Dengan adanya kawasan hijau ini, lebih dari 1.700 kepala keluarga atau sekitar 6.000 jiwa dapat menikmati sumber air bersih.
Mamang menyebut hutan ini sebagai "supermarket alami" bagi masyarakat, karena menyediakan hasil hutan yang bisa dimanfaatkan tanpa merusak ekosistem.
"Dengan menjaga hutan, kami bisa melindungi satwa liar dan menjaga kualitas air sungai agar tetap bersih bagi masyarakat. Ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang," tambahnya.
Sebagai langkah konkret, PPMH dan masyarakat setempat melakukan upaya penghijauan atau reboisasi dengan menanam 12.000 bibit pohon. Jenis pohon yang ditanam mencakup sengon, jati, trembesi, gaharu, durian, dan mentawai.
Penanaman ini tidak hanya dilakukan di kawasan hutan, tetapi juga di pekarangan rumah warga, fasilitas pendidikan, dan sepanjang jalan desa untuk meningkatkan tutupan hijau dan memperbaiki kualitas udara.
Upaya petani sawit swadaya ini menunjukkan bahwa kelapa sawit berkelanjutan bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan menjaga hutan dan melakukan penghijauan, mereka telah berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim, menjaga keberlanjutan sumber daya alam, serta menjadi contoh bagi petani lain dalam menyeimbangkan ekonomi dan ekologi. (*)
Sumber : Upaya Petani di Ketapang Kalbar Swadaya Jaga Pelestarian Alam - Tribunpontianak.co.id
Bagikan:
Desa Lembah Hijau Dua
Kecamatan Nanga Tayap
Kabupaten Ketapang
Provinsi Kalimantan Barat
© 2025 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini